Akhir Akhir ini umat Islam mungkin telah lelah dengan polemik klassik yang terjadi di Indonesia diantaranya masalah yasinan dan tahlilan.
Silang pendapat antara pihak yang setuju bahkan membudayakan yasinan
dan tahlilan, dengan Pihak yang tidak setuju dengan yasinan tahlilan
bahkan menganggap bahwa tahlilan dan yasinan adalah perkara bid’ah dan kesesatan,hingga
saat ini masih terjadi,yang menjadi korban adalah masyarakat ‘awam
yang belum faham devinisi bid’ah dan belum menyadari bahwa semua yang
dibaca dan yang dilakukan didalam pelaksanaan tahlilan dan yasinan
memiliki landasan hukum baik dari Al Quran atau Al Hadits.
Dimana-mana baik di dalam pengajian-pengajian
umum, ta’lim-ta’lim rutin setiap kali membicarakan bid’ah maka pasti
yasinan dan tahlilan menjadi contohnya. Mereka mengatakan bahwa yasinan
dan tahlilan adalah bid’ah dholalah karena tidak pernah ada contohnya
dari Rasulullah dan para sahabat, yasinan dan tahlilan adalah budaya
hindu yang dimodifikasi dengan ajaran Islam, bahkan yasinan dan tahlilan
sudah mengarah kepada kesyirikan,dan pelakunya terancam masuk kedalam
Neraka.
Sebelum kita berani mengatakan bahwa tahlilan dan
yasinan adalah bid’ah,ada baiknya terlebih dahulu kita
mengetahui/mencari tahu devinisi Bid’ah menurut para ‘ulama, kemudian
kita mencari tahu devinisi tahlilan dan yasinan,setelah kita tahu
devinisi keduanya baru kita menyimpulkan apakh tahlilan dan yasinan
termasuk bid’ah dholalah,atau sunnah.?
DEVINISI BID’AH
Imam Syafi’i rahimahullah,seorang ‘ulama besar pendiri madzhab syaafi’iyyah,mendefinisikan, bid’ah sbb,
ما
أحدث يخالف كتابا أو سنة اأو أثرا أو اجماعا, فهذه البدعة الضلالة. وما
أحدث من الخير, لا خلاف فيه لواحد من هذه الأصول, فهذه محدثة غير مذمومة.
“ Bid’ah adalah apa-apa yang diadakan yang
menyelisihi kitab Allah dan sunah-NYA, atsar, atau ijma’ maka inilah
bid’ah yang sesat. Adapun perkara baik yang diadakan, yang tidak
menyelisihi salah satu pun prinsip-prinsip ini maka tidaklah termasuk
perkara baru yang tercela.”
Imam Ibnu Rojab rahimahullah dalam kitabnya yang berjudul “ Jami’ul Ulum wal Hikam “ mengatakan bahwa bid’ah adalah,
ما
أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه ، فأمَّا ما كان له أصلٌ
مِنَ الشَّرع يدلُّ عليه ، فليس ببدعةٍ شرعاً ، وإنْ كان بدعةً لغةً ،
“ Bid’ah adalah apa saja yang dibuat tanpa
landasan syari’at. Jika punya landasan hukum dalam syari’at, maka bukan
bid’ah secara syari’at, walaupun termasuk bid’ah dalam tinjauan bahasa.”
Dalam definisi bid’ah yang dikemukakan oleh para
ulama’ di atas, bukankah bisa difahami bahwa perkara baru atau perkara
yang tidak ada contohnya dari Rasulullah SAW itu dibagi dua yaitu
perkara baru yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syare’at dan
perkara baru yang ada dasarnya dalam syare’at. Ibnu Rojab menegaskan
bahwa perkara baru yang ada dasarnya dalam syare’at, itu tidak bisa
dikatakan bid’ah secara syare’at walaupun sebenarnya ia termasuk bid’ah
secara bahasa, dan jika suatu amalan dianggap bid’ah secara bahasa,tapi
tidak secara syare’at,maka amalan tersebut boleh dilakukan,selagi tidak
ada nash yang nyata nyata melarangnya.
Setelah kita tahu devinisi bid’ah menurut para ‘ulama,sekarang mari kita lihat devinisi tahlilan dan yasinan.
DEFINISI TAHLILAN DAN YASINAN
Kata Tahlilan berasal dari bahasa Arab tahliil (تَهْلِيْلٌ) dari akar kata:
هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا
yang berarti mengucapkan kalimat: لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ
. Kata tahlil dengan pengertian ini telah muncul dan ada di masa
Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda
beliau:
عَنْ
أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ
قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ
تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ
صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ
وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ
يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى .رواه مسلم
“ Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari
Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda:
"Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan
tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah,
setiap bacaan TAHLIL itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu
adalah sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan
mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat
Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).
sedangkan yasinan adalah acara membaca surat
yasin yang biasanya juga dirangkai dengan tahlilan. Di kalangan
masyarakat Indonesia istilah tahlilan dan yasinan populer digunakan
untuk menyebut sebuah acara dzikir bersama, doa bersama, atau majlis
dzikir. Singkatnya, acara tahlilan, dzikir bersama, majlis dzikir, atau
doa bersama adalah ungkapan yang berbeda untuk menyebut suatu kegiatan
yang sama, yaitu: kegiatan individual atau berkelompok untuk berdzikir
kepada Allah SWT, Pada hakikatnya tahlilan/yasinan adalah bagian dari
dzikir kepada Allah SWT
2. Dalil-dalil tentang dzikir bersama
عَنْ
أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ مُعَاوِيَةُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ
فَقَالَ: مَا أَجْلَسَكُمْ ؟. قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ
وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا. قَالَ:
آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟ قَالُوا: وَاللَّهِ مَا
أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ. قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ
تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ
اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ . رواه أحمد و مسلم و
الترمذي و النسائي
“ Dari Abu Sa'id al-Khudriy radliallahu 'anhu,
Mu'awiyah berkata: Sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa
sallam pernah keluar menuju halaqah (perkumpulan) para sahabatnya,
beliau bertanya: "Kenapa kalian duduk di sini?". Mereka menjawab: "Kami
duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memujiNya sebagaimana Islam
mengajarkan kami, dan atas anugerah Allah dengan Islam untuk kami". Nabi
bertanya kemudian: "Demi Allah, kalian tidak duduk kecuali hanya untuk
ini?". Jawab mereka: "Demi Allah, kami tidak duduk kecuali hanya untuk
ini". Nabi bersabda: "Sesungguhnya aku tidak mempunyai prasangka buruk
terhadap kalian, tetapi malaikat Jibril datang kepadaku dan memberi
kabar bahwasanya Allah 'Azza wa Jalla membanggakan tindakan kalian
kepada para malaikat". (Hadits riwayat: Ahmad, Muslim, At-Tirmidziy dan
An-Nasa`iy).
Jika kita perhatikan hadits ini, dzikir bersama
yang dilakukan para sahabat tidak hanya sekedar direstui oleh Nabi
Muhammad SAW, tetapi Nabi juga memujinya, karena pada saat yang sama
Malaikat Jibril memberi kabar bahwa Allah 'Azza wa Jalla membanggakan
kreatifitas dzikir bersama yang dilakukan para sahabat ini kepada para
malaikat.
Sekarang marilah kita perhatikan hadits berikut ini
عَنِ
الْأَغَرِّ أَبِي مُسْلِمٍ أَنَّهُ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ
وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ
يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ
وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ
وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ. رواه مسلم
"Dari Al-Agharr Abu Muslim, sesungguhnya ia
berkata: Aku bersaksi bahwasanya Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudzriy
bersaksi, bahwa sesungguhnya Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam
bersabda: "Tidak duduk suatu kaum dengan berdzikir bersama-sama kepada
Allah 'Azza wa Jalla, kecuali para malaikat mengerumuni mereka, rahmat
Allah mengalir memenuhi mereka, ketenteraman diturunkan kepada mereka,
dan Allah menyebut mereka dalam golongan orang yang ada disisiNya".
(Hadits riwayat Muslim)
dan masih banyak lagi hadts hadits shohih yang menjelaskan tentang ke utamaan dzikir berjama’ah.
3. DASAR - DASAR BACAAN YANG ADA DALAM ACARA YASINAN DAN TAHLILAN
Seluruh bacaan dan dzikir yang kita baca dalam
yasinan dan tahlilan semua mengandung ke utamaan – ke utamaan,dan
Rosululloh SAW sendiri menyuruh kita untuk membacanya.
Bacaan-bacaan yang selalu dibaca dalam acara tahlilan yaitu:
1. Membaca Surat Al-Fatihah.
Dalil mengenai keutaman Surat Al Fatihah:
Sabda Rosululloh SAW.
Artinya: "Dari Abu Sa`id Al-Mu'alla radliallahu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda
kepadaku: "Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam
Al-Qur'an, sebelum engkau keluar dari masjid?". Maka Rasulullah memegang
tanganku. Dan ketika kami hendak keluar, aku bertanya: "Wahai
Rasulullah! Engkau berkata bahwa engkau akan mengajarkanku surat yang
paling agung dalam Al-Qur'an". Beliau menjawab: "Al-Hamdu Lillahi
Rabbil-Alamiin (Surat Al-Fatihah), ia adalah tujuh surat yang
diulang-ulang (dibaca pada setiap sholat), ia adalah Al-Qur'an yang
agung yang diberikan kepadaku".
(Hadits riwayat: Al-Bukhari).
2. Membaca Surat Yasin.
Dalil mengenai keutamaan Surat Yasin.
Sabda Rosuululloh SAW
“Artinya”Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu., ia
berkata: "Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa membaca surat Yasin di malam hari, maka paginya ia mendapat
pengampunan, dan barangsiapa membaca surat Hamim yang didalamnya
diterangkan masalah Ad-Dukhaan (Surat Ad-Dukhaan), maka paginya ia
mendapat mengampunan". (Hadits riwayat: Abu Ya'la). Sanadnya baik.
(Lihat tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir Surat Yaasiin)
Rosululloh SAW juga bersabda,
Artinya“ Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu
'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:
"Bacalah Surat Yaasiin atas orang mati kalian" (Hadits riwayat: Ahmad,
Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Sabda Rosululloh SAW,
Artinya“ Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu
'anhu, sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:
Surat Al-Baqarah adalah puncak Al-Qur'an, 80 malaikat menyertai
diturunkannya setiap ayat dari surat ini. Dan Ayat laa ilaaha illaa Huwa
Al-Hayyu Al-Qayyuumu (Ayat Kursi) dikeluarkan lewat bawah 'Arsy,
kemudian dimasukkan ke dalam bagian Surat Al-Baqarah. Dan Surat Yaasiin
adalah jantung Al-Qur'an, seseorang tidak membacanya untuk mengharapkan
Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa dan Hari Akhir (Hari Kiamat), kecuali ia
diampuni dosa-dosanya. Dan bacalah Surat Yaasiin pada orang-orang mati
kalian".
(Hadits riwayat: Ahmad)
3. Membaca Surat Al-Ikhlash.
Dalil mengenai keutamaan Surat Al-Ikhlash.
Rosululloh SAW bersabda,
Artinya“ Dari Abu Said Al-Khudriy radliallahu
'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepada
para sahabatnya: "Apakah kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur'an
dalam semalam?". Maka mereka merasa berat dan berkata: "Siapakah di
antara kami yang mampu melakukan itu, wahai Rasulullah?". Jawab beliau:
"Ayat Allahu Al-Waahid Ash-Shamad (Surat Al-Ikhlash maksudnya), adalah
sepertiga Al-Qur'an"
(Hadits riwayat: Al-Bukhari).
Imam Ahmad meriwayatkan:
Artinya“ Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu,
bahwasanya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam mendengar seseorang
membaca Qul huwaAllahu Ahad (Surat Al-Ikhlash). Maka beliau bersabda:
"Pasti". Mereka (para sahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang
pasti?". Jawab beliau: "Ia pasti masuk surga".
(Hadits riwayat: Ahmad).
4. Membaca Surat Al-Falaq
5. Membaca Surat An-Naas
Dalil keutamaan Surat Al-Falaq dan An-Naas.
Artinya“ Dari Aisyah radliallahu 'anhaa,
"bahwasanya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bila merasa sakit
beliau membaca sendiri Al-Mu`awwidzaat (Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq
dan Surat An-Naas), kemudian meniupkannya. Dan apabila rasa sakitnya
bertambah aku yang membacanya kemudian aku usapkan ke tangannya
mengharap keberkahan dari surat-surat tersebut".
(Hadits riwayat: Al-Bukhari).
6. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 1 sampai 5
7. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 163
8. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi)
9. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 284 sampai akhir Surat.
Dalil keutamaan ayat-ayat tersebut:
Artinya"Dari Abdullah bin Mas'ud
radliallahu 'anhu, ia berkata: "Barangsiapa membaca 10 ayat dari Surat
Al-Baqarah pada suatu malam, maka setan tidak masuk rumah itu pada malam
itu sampai pagi, Yaitu 4 ayat pembukaan dari Surat Al-Baqarah, Ayat
Kursi dan 2 ayat sesudahnya, dan 3 ayat terakhir yang dimulai lillahi
maa fis-samaawaati..)" (Hadits riwayat: Ibnu Majah).
10. Membaca Istighfar ,
Dalil keutamaan membaca istighfar:
Allah SWT berfirman:
"Dan
hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya.
(Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi
kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang
telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang
mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat". (QS. Huud:
3)
Sabda Rosululoh SAW.
“ Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu : Aku
mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Demi
Allah! Sungguh aku beristighfar (memohon ampun) dan bertaubat kepadaNya
lebih dari 70 kali dalam sehari". (Hadits riwayat: Al-Bukhari).
Sbda Rosululloh SAW.
“ Dari Al-Aghar bin Yasaar Al-Muzani radliallahu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:
"Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat
kepadaNya seratus kali dalam sehari". (Hadits riwayat: Muslim).
11. Membaca Tahlil : لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ
12. Membaca Takbir : اَللهُ أَكْبَرُ
13. Membaca Tasbih : سُبْحَانَ اللهِ
14. Membaca Tahmid : الْحَمْدُ للهِ
Dalil mengenai keutamaan membaca tahlil, takbir dan tasbih:
Sabda Rosululloh SAW.
Artinya“ Dari Jabir bin Abdullah
radliallahu 'anhumaa, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu
alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik Dzikir adalah ucapan Laa ilaaha
illa-Llah, dan sebaik-baik doa adalah ucapan Al-Hamdi li-Llah". (Hadits
riwayat: At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Sabda Rosululloh SAW.
Artinya“ Dari Abu Hurairah radliallahu
'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Ada dua
kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan kebaikan dan disukai
oleh Allah Yang Maha Rahman, yaitu Subhaana-Llahi wa bihamdihi,
Subhaana-Llahi Al-'Adzim".( Hadits riwayat: Al-Bukhari, Muslim, Ahmad
dan Ibnu Majah).
Sabda Rosululloh.
Artinya“ Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari
Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda:
"Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan
tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah,
setiap bacaan tahlil itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah
sedekah, dan amar makruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi
semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha.”
(Hadits riwayat: Muslim).
Demikianlah
dalil-dalil yang biasa dipakai sebagai dasar dilaksanakanya amal
tahlilan dan yasinan oleh kaum muslimin yang mendukung tahlilan dan
yasinan. Tulisan ini bukan bermaksud untuk mengajak pembaca sekalian
harus setuju dengan tahlilan dan yasinan, tetapi lebih sebagai
keprihatinan penulis terhadap kondisi umat Islam khususnya di Pulau
Batam, yang saling menyalahkan, membid’ahkan bahkan sampai mengkafirkan
satu sama lain. Padahal ini hanya disebabkan perbedaan-perbedaan
pendapat para ‘ulama kita, yang para ulama itu sendiri sebenarnya sangat
longgar dalam mensikapinya. Tahlilan dan yasinan adalah salah satu
amalan yang selalu dicecar dengan kata-kata sesat, bid’ah bahkan sampai
kekafiran. Dan bisa dikatakan bahwa di Batam ini, tahlilan dan yasinan
menjadi icon tudingan bid’ah oleh semua pihak yang tidak setuju dengan
tahlilan dan yasinan. Setiap pembicaraan bid’ah, ahli bid’ah, menyalahi
sunah, sesat dan lain sebagainya pasti menjadikan yasinan dan tahlilan
sebagai contohnya.
Satu hal yang harus kita ingat,
Bahwa
menjadikan tahlilan dan yasinan sebagai icon tudingan bid’ah , telah
menyebabkan kaum muslimin lalai terhadap masalah-masalah yang lebih
penting dan prinsipil, seperti pemikiran aqidah yang jelas-jelas
kebid’ahan dan kesesatanya yang juga berkembang pada hari ini. Kaum
muslimin lalai bahwa di negeri ini ajaran syi’ah dan ahmadiyah terus
merangkak maju dan berkembang dengan doktrin dan komunitasnya yang
semakin hari semakin kuat. Kaum muslimin juga lalai bahwa kesesatan dan
kemusyrikan yang hakiki di abad modern ini, yakni materialisme dan
hedonisme, telah menggerogoti ketauhidan dan arti nilai ketuhanan yang
bersemayam di hati manusia secara luas. Kaum muslimin juga lalai bahwa
saat ini banyak sekali muncul kelompok-kelompok sempalan yang mengusung
pemahaman sesat dan sangat jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya
seperti jama’ah salamullah, agama baha’iyah ingkarus sunah dan
lain-lainya.
Mudah-mudahan
tulisan yang sangat sederhana ini bisa mengembalikan semangat kaum
muslimin yang setuju dengan YASINAN DAN TAHLILAN,dan bagi kaum muslimin
yang ANTI YASINAN DAN TAHLILAN,mudah-mudahan bisa menjaga amanah Allah
yang berupa lidah,sehingga ia tidak menjadi sebab binasanya sang pemilik lidah itu sendiri.
Wallahu a’lamu bisshowab.